Behind
The Rain
"Felon, dia suka hujan, kau tahu kenapa?"
Aku menggelengkan kepala,
"dan aku tidak peduli tentang apapun itu, mahkluk yang kalian sangat takuti"
"Heyyyy!!!"
"Ok, baiklah, apa?
Kenapa?"
"Dia suka hujan, karena
langkah kakinya tidak akan terdengar dan teriakanmu akan tersamarkan oleh
rintik hujan yang jatuh, hingga dia berhasil mengahabisi nyawamu"
Dan mendung pekat di siang
ini seolah menjadikan apa yang jane katakan benar, angin dingin mulai menerpa
permukaan kulitku, aku benci suasana seperti ini, hari itu aku tidak pulang
dengan singgah di pinggiran pantai karena hujan rintik telah datang untuk
membasahi bumi. Dengan tergesa aku melangkahkan kaki menuju rumahku yang
berjarak 200m dari tempat ku berdiri sekarang. Namun, tunggu firasatku sungguh
tidak baik sekarang, entahlah tapi aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku
dari belakang, apa mungkin ini hanyalah ilusiku semata? Aku berubah jadi pecundang juga penakut
kenapa juga aku harus termakan oleh cerita jane yang tak masuk akal itu. Tapi aku sungguh melakukannya aku ketakutan
memikirkan apa yang temanku ceritakan tadi, aku berusaha untuk tidak peduli dan
tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang, namun aku tetap melakukannya aku
membalikan badan, aku menyesal telah melakukannya, aku mohon tuhan lindungilah
aku sekarang, siapakah dia siapa pria dengan jubah hitam yang berada hanya 50
meter dengan diriku, dan sekarang aku benci pohon rindang yang berdiri kokoh hingga
dapat menambahkan kesan mencekam pada situasi ini, dia berjalan mendekat,
perlahan dia mengikis jarak yang tercipta namun mengapa rasanya kakiku terpaku
hanya disini. Tuhan kumohon bantulah aku kali ini.
"Oh, hai gadis
cantik" suaranya yang serak menyapa indra pendengaranku, ternyata sekarang
dia tepat ada di hadapanku, "kau si-siapa? Ke-kenapa kau ada disini?"
Entah apa yang harus ku ucapkan saat ini, bodohnya otakku ini kenapa aku tak
berteriak saja?
"Hei tenanglah aku hanya ingin bermain denganmu, sepertinya menyenangkan bermain dengan gadis yang tak takut akan sebuah permainan kematian" dia tepat berbisik pada telingaku hingga berhasil membuat bulu romaku berdiri ngeri.
Tanpa sempat aku berbicara kurasakan sebuah benda dingin menyentuh permukaan leherku, oh tidak apakah malam ini hari terakhirku berada di dunia? Aku mohon jangan sekarang bahkan aku belum siap untuk mati sekarang, ku pejamkan mataku erat karena tak ingin melihat diriku yang akan mati mengenaskan, bahkan hingga aku menahan tangisku yang siap untuk pecah, aku menahan semuanya kugigit bibir bawahku hingga rasanya perih mulutku bergetar, hingga sepersekon kemudian kurasakan sebuah tangan yang mengambil alih diriku menenggelamkan kepalaku pada dada bidangnya, hingga ku eratkan pelukanku padanya, karena rasa takutku, terima kasih tuhan kau telah mengirim malaikatmu padaku, terima kasih kau telah menyelamatkan ku dari permainan kematian ini, Hingga hanya kegelapan yang menerpa indra penglihatanku juga sebuah pisau yang tertancap dengan cantiknya di bagian perutku, dengan hiasan liquid merah mewarnai bajuku yang sudah basah oleh rintik hujan.
"Oh sayang sekali kau sudah sekarat hanya dengan satu tikaman, gadis cantik" hanya suara tawa yang tertangkap oleh indraku, hingga kegelapan benar-benar mengambil alih kesadaranku.
"Hei tenanglah aku hanya ingin bermain denganmu, sepertinya menyenangkan bermain dengan gadis yang tak takut akan sebuah permainan kematian" dia tepat berbisik pada telingaku hingga berhasil membuat bulu romaku berdiri ngeri.
Tanpa sempat aku berbicara kurasakan sebuah benda dingin menyentuh permukaan leherku, oh tidak apakah malam ini hari terakhirku berada di dunia? Aku mohon jangan sekarang bahkan aku belum siap untuk mati sekarang, ku pejamkan mataku erat karena tak ingin melihat diriku yang akan mati mengenaskan, bahkan hingga aku menahan tangisku yang siap untuk pecah, aku menahan semuanya kugigit bibir bawahku hingga rasanya perih mulutku bergetar, hingga sepersekon kemudian kurasakan sebuah tangan yang mengambil alih diriku menenggelamkan kepalaku pada dada bidangnya, hingga ku eratkan pelukanku padanya, karena rasa takutku, terima kasih tuhan kau telah mengirim malaikatmu padaku, terima kasih kau telah menyelamatkan ku dari permainan kematian ini, Hingga hanya kegelapan yang menerpa indra penglihatanku juga sebuah pisau yang tertancap dengan cantiknya di bagian perutku, dengan hiasan liquid merah mewarnai bajuku yang sudah basah oleh rintik hujan.
"Oh sayang sekali kau sudah sekarat hanya dengan satu tikaman, gadis cantik" hanya suara tawa yang tertangkap oleh indraku, hingga kegelapan benar-benar mengambil alih kesadaranku.
